&
Advertise Here with Today.com
 

Nov 05 2007

Monopoli memek jurnalnet

Published by jurnalnet at 11:54 am under Uncategorized Edit This

Jual Pelacur Lewat Internet, Suami-Istri Ditangkap Polda”. Lantaran judul tersebut, maka saya rela membarter seribuan saya dengan selembar koran Lampu Merah di bilangan Senayan pada pertengahan Mei 2003. Sempat sekelebat muncul di otak liar saya, ada juga orang Indonesia yang kreatif megadopsi teknologi terkini untuk menjalankan bisnis lawas yang sudah ada sejak zaman Romawi. Modusnya sih sederhana, sepasang suami-istri (pasutri) tersebut membuat sebuah situs di Internet dengan nama www.poskota.net.

Yang jelas, situs ini tidak ada hubungannya dengan koran Pos Kota, sebuah koran terlaris di Jakarta yang kadang lembarannya masih kental berbau minyak tanah. Kemudian pasutri tersebut memasang iklan di koran Pos Kota, untuk menarik kunjungan konsumen ke situs tersebut.

Nah di situs tersebut, tersedia data lengkap sekitar 20-an perempuan, berikut dengan tarif dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Tempat transaksi esek-eseknya? Bebas di hotel mana saja, seantero Jakarta sesuai keinginan konsumen. Setelah transaksi berlangsung, keesokan harinya pasutri tersebut tinggal mengutip 40% dari uang yang dibayarkan konsumen. Pasutri tersebut merekrut para perempuan tersebut melalui iklan lowongan pekerjaan, sebagai tukang pijat atau kapster salon. Kemudian mereka dibujuk rayu agar bersedia menjadi pekerja seks komersial (PSK).

Sebenarnya pasutri ini telah berbisnis esek-esek sejak 2 tahun silam. Fasilitas Internet baru dimanfaatkannya sekitar 1 tahun belakangan. Omzetnya lumayan, sekitar Rp 5 juta per bulan. Keruan saja, tim Satserse Cybercrime Polda Metro Jaya langsung membekuk pasutri tersebut, setelah sebelumnya berpura-pura menjadi konsumen. Situs www.poskota.net tersebut tampaknya kini sudah ditutup, tetapi di Internet tetap berlaku kata pepatah “mati satu tumbuh seribu”.

Kalau diperhatikan, sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa dari kasus e-mucikari tersebut. Saya ingat, kira-kira sekitar tahun 1999-an, saya pernah mendapatkan forward e-mail dari seorang rekan saya. Isinya, sederetan nama perempuan PSK, berikut dengan nomor telepon mereka. Konon, rekan saya tersebut sudah melakukan “validasi” atas data pada e-mail tersebut, dan dinyatakan sahih. Ini kan sebenarnya setali tiga uang dengan e-mucikari di atas, sama-sama mempromosikan bisnis esek-esek via Internet. Sehingga saya pikir, yang dilakukan oleh pasutri di atas, lepas dari soal baik-buruk, adalah sebuah inovasi dan keberanian menggunakan teknologi. Luar biasa bukan?

Inovasi lainnya yang saya dengar, barangkali Anda malah sudah tahu, setelah e-mucikari kini ada m-mucikari, alias mobile-mucikari. Teknologi yang dipakai adalah teknologi ponsel dengan fasilitas multimedia-messagging service (MMS). Barter foto dan data PSK tentu lebih mudah dengan model teknologi mobile (m) ini. Jika demikian adanya, maka benar-benar dunia esek-esek gak ada matinya. Melekatnya teknologi terkini pada permucikarian, akan semakin meningkatkan added value dari bisnis terlawas tersebut.

Added value tersebut semisal semakin personal, semakin informatif dan semakin sulit dideteksi tentunya. Saya tidak akan heran, apabila ternyata benar kita sudah masuk ke era jasa m-mucikari dan dapat membayar jasa tersebut melalui m-banking, keduanya melalui beberapa klik-klik di keypad ponsel. Tentu saja, bukan untuk mendapatkan m-seks.

Kembali ke aktifitas pasutri di atas, sebenarnya apa yang mereka lakukan hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak pemanfaatan Internet sebagai ajang promosi esek-esek. Sebutlah semisal situs www.ranjang.com yang berisi sebuah message board bertajuk “Informasi Penjaja Seks Komersial”. Isinya, tau sendiri lah! Ada pula sebuah mailing-list “escort_asia” di www.yahoogroups.com , sebuah mailing-list khusus yang pada deskripsinya tertulis “kalau anda tertarik untuk menjadi escort silahkan hubungi e-mail di atas dengan menyebutkan berapa tarif anda per jam/hari/minggu/bulan atau short dan long stay”.

Jangan salah, mempromosikan esek-esek Jakarta bukan cuma monopoli orang Jakarta atau orang Indonesia saja. Bahkan para bule yang kebetulan singgah dan menikmati dugem di Jakarta, saling berbagi kesan dan pesan melalui situs www.worldsexguide.org/jakarta.txt.html. Isinya? Dari lokasi, jenis pelayanan hingga tarif PSK seputaran Jakarta. Tentu, berdasarkan pengalaman si bule anu tersebut.

Ah, tapi bisa saja informasi tersebut tidak kredibel. Lah wong nama situsnya saja sudah “miring” begitu. Eits, jangan salah! Berikut ini gambaran mengenai kehidupan malam di Jakarta, menurut situs ternama http://travel.yahoo.com : “a more unsavory side of Jakarta after dark is the city’s booming prostitution industry. Visitors — male visitors, at any rate — may find themselves being solicited, even at otherwise unassuming hotel bars. Every traveler who goes to Jakarta is told to visit Tanamur disco for an extraordinary glimpse of the city’s seemier and steamier activities”.

*) Penulis adalah Koordinator ICT Watch dan jurnalis TI independen. Dapat dihubungi melalui e-mail donnybu@ictwatch.com. Tulisan ini pernah dimuat oleh majalah Djakarta!, September 2003. Tulisan ini bebas dikutip asal menyebutkan sumbernya.

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
Advertise Here with Today.com

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.
Not A Member? Register for Free!

Advertise Here